Posted by: naksigit | October 19, 2008

Melestarikan Budaya ‘ Tedhak Siten ‘

       Indonesia merupakan negara yang penuh dengan ragam budaya. Salah satu yang budaya yang perlu kita lestarikan dan masih dilakukan oleh sebagian warga Indonesia Khususnya di wilayah Jawa adalah Budaya Tedhak sinten ( Turun Tanah ) yaitu suatu adat budaya yang di maksudkan untuk memperkenalkan anak kepada tanah, lebih jauh lagi Upacara Tedhak Siten ini bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi dan harapan agar bayi cepat berjalan.

      Arti kata tedhak sinten sendiri berasal dari dua suku kata yaitu Tedhak ( Turun atau dekat ) dan siten yang berasal dari kata siti yang artinya tanah.Budaya tedhak sinten biasanya diperlakukan buat anak yang berusia antara 7-8 bulan. Berikut ini urutan upacara tedhak siten

baca lebih lanjut..


1. Mendudukan/ Menginjakkan  kaki bayi ke atas jadah (makanan dari beras ketan). artinya, agar kelak sesudah dewasa selalu ingat tanah airnya.
2. Menaikkan bayi setahap demi setahap ke gunungan nasi. Artinya, agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis.
3. Memasukakn bayi ke dalam kurungan dan mananti sampai bayi tersebut mengambil barang-barang yang di sediakan di dalam kurungan yang terdiri dari buku, pensil, Tasbih, Bacaan Al qur’an, dompet dan mainan. Benda yang pertama kali diambil sang bayi melambangkan kehidupannya kelak.
4. dan di akhiri dengan pembacaan do’a

        Untuk melestarikan adat tersebut kami sebagai keturunan murni orang jawa menjalankan upacara tedhak siten buat anaku ( naura alyaa Kirana Sigit ) yang berusia 8 bulan. Semua kebutuhan agar terselenggaranya adat tersebut sudah kami persiapakan dari undangan, makanan dan juga barang-barang yang nantinya akan di ambil oleh si kecil. Pada hari H di lakukanlah adat jawa tersebut di keluarga kami. Pertama – tama Naura didudukan di jadah melihat ekspresinya kayaknya anakku menikmati prosesi tersebut sambil sebentar sebentar tolah toleh ke sekitarnya ( mungkin bingung dgn orang yang menghadirinya ), selanjutnya prosesi berikutnya adalah melangkahkan kaki anakku di gunungan nasi, karena anaku terlalu banyak bergerak, maka sebelum menjejakan kaki selangkah demi langkah gunungan yang di tutupi dengan daun pisang langsung di tendang ama anaku alhasil orang- orang ketawa( ha..ha….) mendengar ketawa begitu banyak orang anakku malah nangis. Selanjutnya prosesi ketiga yaitu memasukan anakku ke dalam kurungan. karena sudah tergangu dengan prosesi kedua pada prosesi ini tangis anakku makin menjadi dan berontak minta cepat di keluarkan ( andai ia dah bisa ngomong hehe…kacian dech ). Pada Prosesi pengambilan barang, pertama yang di ambil oleh anaku yaitu kalkulator, kedua satu set alat rias, berikutnya adalah surat alqur’an. kami sendiri tidak tau apa yang ada di benak anaku yang terpenting bagi kami adalah menjaga dan memberikan yang terbaik buat anak kami sampai dia dewasa nanti. Prosesi terakhir adalah doa.

      Nah temen-temen demikian sekelumit cerita adat budaya indonesia yang berusaha dijaga dan dilestarikan oleh keluarga kami. semoga adat-adat budaya lain yang menunjukan kebhineka Tunggal Ikaan di Indonesia juga tetap terjaga di belahan bumi Nusantara Kita. amin

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: